Menjaga Ketenangan Hati dan Keikhlasan Niat
Menjaga Ketenangan Hati dan Keikhlasan Niat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minnah ‘Alim Ar-Raqib. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 6 Safar 1448 H / 21 Juli 2026 M.
Kajian Hadtis Tentang Menjaga Ketenangan Hati dan Keikhlasan Niat
Imam Al-Mundziri rahimahullahu ta’ala meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعْمَتَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: هُوَ جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Sesungguhnya manusia pertama yang diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid. Ia didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?’ Ia menjawab: ‘Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.’ Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Engkau dusta! Akan tetapi engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang pemberani, dan hal itu telah dikatakan (di dunia).’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam api neraka.`” (HR. Muslim, An-Nasa’i, dan Tirmidzi)
Golongan pertama yang dihisab pada hari kiamat tersebut tidak mendapatkan pertolongan karena ketiadaan keikhlasan.
Golongan Kedua yang dipanggil untuk mempertanggungjawabkan amalannya adalah seseorang yang mempelajari ilmu agama dan Al-Qur’an:
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ
“Dan seorang yang mempelajari ilmu (ilmu agama, akidah, manhaj, hadits, sejarah, dan syariat Allah), mengajarkannya, serta membaca Al-Qur’an…” (HR. Muslim, An-Nasa’i, dan Tirmidzi)
Seseorang yang dianugerahi kemampuan menuntut ilmu agama serta membaca Al-Qur’an dipanggil untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla memperlihatkan seluruh nikmat dan karunia tersebut kepadanya hingga ia mengakui semuanya.
فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“Maka ia didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?’ Ia menjawab: ‘Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an hanya karena-Mu.’ Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Engkau dusta! Akan tetapi engkau mempelajari ilmu supaya dikatakan sebagai seorang alim, dan engkau membaca Al-Qur’an supaya dikatakan bahwa engkau adalah seorang qari, dan hal itu telah dikatakan (di dunia).’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim, An-Nasa’i, dan Tirmidzi)
Golongan ketiga yang dihisab adalah seseorang yang dikaruniai kelapangan rezeki dan berbagai jenis harta benda oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah diperlihatkan seluruh nikmat-Nya dan ia mengakui hal tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla menanyakan pengaplikasian nikmat harta tersebut.
وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“Dan seorang yang dikaruniai kelapangan oleh Allah dan diberi berbagai jenis harta benda. Ia didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?’ Ia menjawab: ‘Tidak ada satu jalan pun yang Engkau sukai agar harta diinfakkan di dalamnya melainkan aku telah menginfakkan hartaku di sana hanya karena-Mu.’ Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Engkau dusta! Akan tetapi engkau melakukan hal itu supaya dikatakan bahwa engkau adalah seorang dermawan, dan hal itu telah dikatakan (di dunia).’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim, An-Nasa’i, dan Tirmidzi)
Peringatan Pentingnya Menjaga Ketenangan Hati dan Keikhlasan Niat
Hadits tersebut pada hakikatnya merupakan peringatan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada orang-orang yang telah dikaruniai nikmat oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Karunia tersebut berupa nikmat keahlian dan keberanian, nikmat ilmu dan kemahiran membaca Al-Qur’an, serta nikmat kelapangan harta. Tiga golongan manusia yang pertama kali diputuskan perkaranya tersebut semuanya telah menerima karunia nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Di hadapan pandangan manusia, amalan dari nikmat-nikmat tersebut tampak dikerjakan hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang tidak dapat ditipu maupun dibohongi karena Maha Mengetahui seluruh isi hati dan niat manusia. Meskipun setiap orang dari ketiga golongan tersebut mengklaim bahwa amalan yang dikerjakannya ditujukan semata-mata untuk Allah ‘Azza wa Jalla, pengakuan tersebut didustakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Pengakuan di atas lisan tersebut berbanding terbalik dengan niat tersembunyi di dalam dada yang akhirnya dibongkar dan ditumpahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat.
Kenyataan ini menjadi peringatan keras bagi setiap pribadi yang dikaruniai keahlian, ilmu, maupun harta agar senantiasa menjaga keikhlasan niat dalam mengamalkan seluruh perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kewajiban Beriman Kepada Hari Kiamat
Rangkaian peristiwa di dalam hadits tersebut memberikan pelajaran mengenai kewajiban beriman kepada hari kiamat. Hari kiamat merupakan hari ketika seluruh manusia dibangkitkan kembali oleh Allah ‘Azza wa Jalla setelah kematian. Keimanan terhadap hari kebangkitan dan hari perhitungan ini merupakan salah satu dari enam rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim.
Kepastian mengenai kedatangan hari kiamat telah ditegaskan oleh Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لاَ رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ
“Yang demikian itu karena sungguh, Allah, Dialah yang hak dan sungguh, Dialah yang menghidupkan segala yang mati, dan sungguh, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sungguh, (hari) kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.” (QS. Al-Hajj[22]: 6–7)
Teguran serta penegasan mengenai kepastian terjadinya hari kiamat juga tercantum di dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:
وَيَسْتَنبِئُونَكَ أَحَقٌّ هُوَ ۖ قُلْ إِي وَرَبِّي إِنَّهُ لَحَقٌّ ۖ وَمَا أَنتُم بِمُعْجِزِينَ
“Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad): ‘Apakah (azab dan hari kiamat) itu benar?’ Katakanlah: ‘Ya, demi Rabbku, sesungguhnya (hari kiamat) itu pasti benar dan kamu tidak dapat melepaskan diri’.” (QS. Yunus[10]: 53)
Manusia tidak akan mampu berbuat apapun pada hari kiamat karena hari tersebut merupakan hari perhitungan (yaumul hisab). Keimanan kepada hari kiamat menuntut setiap pribadi untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Hari kiamat juga merupakan hari pemutusan, yaitu saat Allah ‘Azza wa Jalla memutuskan takdir hamba-hamba-Nya, baik yang masuk ke dalam surga maupun neraka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:
إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا
“Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan.” (QS. An-Naba[78]: 17)
Kepastian mengenai datangnya hari kiamat tidak boleh diragukan. Allah ‘Azza wa Jalla telah menyiapkan balasan pahala bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, serta menyiapkan sanksi bagi orang-orang kafir, musyrik, munafik, maupun para pelaku maksiat dari kalangan umat ini yang berdasarkan hikmah Allah ‘Azza wa Jalla diadzab terlebih dahulu sebelum dikeluarkan dari neraka.
Proses perjalanan hidup manusia diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ . ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ
“Kemudian, sesudah itu, sungguh kamu pasti akan mati. Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari kiamat.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 15–16)
Keutamaan Mati Syahid dan Enam Kemuliaan di Sisi Allah
Pelajaran lainnya dari hadits tersebut yaitu mati syahid dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki keutamaan yang sangat besar apabila dilaksanakan dengan penuh keikhlasan, bukan untuk memamerkan keberanian, kejantanan, atau keahlian dalam berperang. Di samping keimanan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, jihad di jalan-Nya merupakan amalan yang sangat utama.
Keutamaan bagi orang yang mati syahid dengan ikhlas dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam haditsnya:
ِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سَبْعُ خِصَالٍ: أَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ، وَيُجَارَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنَ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَيُوضَعَ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، الْيَاقُوتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَيُزَوَّجَ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ
“Bagi orang yang mati syahid di sisi Allah ada tujuh keutamaan: diampuni dosanya pada tetesan darahnya yang pertama, diperlihatkan tempatnya di surga, dihiasi dengan pakaian keimanan, dilindungi dari azab kubur, diamankan dari ketakutan yang paling besar, diletakkan di atas kepalanya mahkota kewibawaan yang satu permatanya lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya, serta dinikahkan dengan tujuh puluh dua istri dari kalangan bidadari surga.” (HR. Ahmad)
َيَشْفَعُ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ
“Dan ia diberikan izin untuk memberikan syafaat kepada 70 orang dari kerabatnya.” (HR. Ahmad)
Seluruh kemuliaan tersebut hanya dapat diraih apabila jihad dilakukan dengan keikhlasan niat semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala (mukhlish). Perang yang ditujukan untuk menegakkan agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengharapkan pujian manusia maupun gelar pahlawan.
Niat yang lurus juga menjadi syarat utama dalam ibadah menuntut ilmu dan membaca Al-Qur’an. Menuntut ilmu merupakan ibadah yang sangat mulia ketika diniatkan untuk menghilangkan kebodohan dari diri sendiri serta mengajar orang lain karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para penuntut ilmu hendaknya senantiasa memeriksa dan memurnikan niat di dalam hati agar tidak terjerumus pada keinginan untuk dipuji sebagai seorang yang alim, pemberani, tegas, atau pembaca Al-Qur’an yang hebat.
Dunia Terlampaui dan Pembongkaran Rahasia Hati pada Hari Kiamat
Seseorang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama dalam amalan dunianya akan mendapati perkara dunia terikut dengan sendirinya. Sebaliknya, seseorang yang beramal hanya demi mengejar bagian duniawi seperti pujian dan popularitas tidak akan memperoleh bagian apa pun di akhirat.
Pujian yang telah didapatkan di dunia merupakan balasan yang telah ditunaikan, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla di dalam hadits shahih: “Hal itu telah dikatakan (di dunia).” Oleh karena itu, penginfakan harta di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerlukan pemeriksaan niat secara terus-menerus agar tetap istiqamah.
Penampilan lahiriah mungkin dapat mengelabuhi manusia, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui segalanya. Pada hari kiamat, seluruh rahasia niat yang disembunyikan di dalam dada akan dibongkar dan ditampakkan, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:
يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ
“Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (QS. At-Tariq[86]: 9)
Keutamaan Menuntut Ilmu dan Mengajarkan Al-Qur’an
Menuntut ilmu dan mengajarkannya merupakan amalan mulia yang hendaknya dilaksanakan semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keutamaan bagi orang yang menempuh jalan menuntut ilmu dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam sabdanya:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Menuntut ilmu, mengamalkan, serta mengajarkannya dengan ikhlas menjadi salah satu jalan utama untuk meraih surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu pula dengan amalan membaca dan mengajarkan Al-Qur’an kepada sesama, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pujian yang sangat tinggi melalui sabdanya:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menegaskan keutamaan amalan tersebut:
إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Peringatan Keras terhadap Bahaya Riya
Hadits tersebut memberikan ancaman dan peringatan keras dari perbuatan riya. Riya adalah melakukan suatu amalan kebaikan atau ibadah agar dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla.
Imam An-Nawawi rahimahullahu ta’ala memberikan penjelasan terkait ancaman bagi tiga golongan yang disebutkan di dalam hadits:
“Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai orang yang berperang, orang yang berilmu, dan orang yang dermawan, serta sanksi atas perbuatan mereka yang dilakukan bukan karena Allah hingga mereka dimasukkan ke dalam neraka, merupakan dalil tentang kerasnya keharaman riya.”
Keikhlasan dan Ittiba’ sebagai Pokok Syarat Diterimanya Amal
Larangan dari perbuatan riya menegaskan kewajiban untuk senantiasa ikhlas di dalam seluruh amalan ibadah. Keikhlasan merupakan salah satu dari dua syarat utama diterimanya suatu amal di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Agama Islam berdiri di atas dua tonggak utama:
- Mengikhlaskan Ibadah Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
“Beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya.” - Beribadah Sesuai Syariat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
“Beribadah kepada Allah sesuai dengan syariat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
Metode dan tata cara beribadah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan satu-satunya jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruh jalan menuju Allah ‘Azza wa Jalla pada hakikatnya tertutup kecuali satu jalan, yaitu jalan yang telah dihamparkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jalan tersebut ditempuh dan diikuti oleh para sahabat serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan keikhlasan.
Keragaman metode beribadah buatan manusia seperti penetapan bacaan ribuan kali atau shalat dengan jumlah rakaat tertentu tanpa pijakan syariat bukanlah jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Satu-satunya jalan kebenaran yang mengantarkan hamba menuju surga dan ridha-Nya adalah ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kedudukan para sahabat yang menempuh jalan ini diabadikan di dalam Al-Qur’an:
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” (QS. At-Tawbah[9]: 100)
Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala menegaskan bahwa seluruh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala tertutup kecuali jalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Menuntut ilmu agama berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para salafus saleh menjadi sarana penting untuk mengenali jalan lurus yang diridai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Kewajiban Ikhlas dan Pembersihan Amal dari Kesyirikan
Setiap hamba diperintahkan untuk memurnikan seluruh ibadah hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” (QS. Al-Bayyinah[98]: 5)
Kedudukan amal yang dikotori oleh perbuatan syirik dijelaskan di dalam hadits qudsi:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya ia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim)
Keluasan Ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala
Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah ‘Azza wa Jalla, baik yang ada di langit, di bumi, maupun yang tersimpan di dalam dada manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui segalanya dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan hal tersebut:
قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Katakanlah (Muhammad): ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam dadamu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahuinya.’ Dan Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 29)
Ketertutupan rahasia hamba dari pandangan manusia tetap berada dalam jangkauan pengetahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى
“Sungguh, Dia mengetahui yang terang-terangan dan yang tersembunyi.” (QS. Al-A’la[87]: 7)
Keagungan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntut setiap muslim untuk senantiasa menjaga keikhlasan hati di dalam setiap amal ibadah yang dikerjakan.
Imam Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala menjelaskan mengenai luasnya pengetahuan Allah ‘Azza wa Jalla atas seluruh aktivitas hamba-Nya:
مَا يُبْدِيهِ الْعِبَادُ وَمَا يُخْفُونَهُ مِنْ أَقْوَالِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ لاَ يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ
“Apa yang ditampakkan oleh para hamba dan apa yang mereka sembunyikan, baik berupa perkataan maupun perbuatan mereka, tidak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah.”
Pertanggungjawaban atas Nikmat yang Telah diberikan-Nya
Pelajaran lainnya yakni setiap nikmat yang dianugerahkan di dunia kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Penegasan mengenai hal tersebut tertuang di dalam Al-Qur’an:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian kamu benar-benar akan ditanyakan pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur[102]: 8)
Kesadaran atas pertanggungjawaban nikmat ini mendorong hamba untuk senantiasa bersyukur serta memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dianugerahi hisab yang ringan:
اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرًا
“Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang ringan.” (HR. Ahmad)
Keutamaan Menginfakkan Harta di Jalan Allah
Menginfakkan sebagian harta di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Pada hakikatnya, harta sejati milik seorang hamba adalah harta yang diinfakkan dengan keikhlasan, sedangkan harta yang ditinggalkan setelah kematian akan menjadi milik ahli waris.
Janji ganjaran bagi orang yang menginfakkan hartanya diabadikan di dalam Al-Qur’an:
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al-Hadid[57]: 18)
Keimanan Kepada Surga dan Neraka
Pelajaran terakhir yakni keimanan kepada surga dan neraka merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Surga dan neraka adalah hak, telah diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ada pada saat ini sebagai bagian dari hal-hal ghaib yang wajib diyakini.
Hadits 23: Kabar Gembira Bagi Umat dan Bahaya Memburu Dunia dengan Amalan Akhirat
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan kabar gembira mengenai kejayaan umat ini di dalam hadits yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu:
بَشِّرْ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّينِ وَالتَّمْكِينِ فِي الْأَرْضِ، فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الْآخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
“Berikanlah kabar gembira kepada umat ini dengan kemuliaan, kedudukan yang tinggi, pertolongan, dan kekuasaan di bumi. Maka barang siapa di antara mereka yang melakukan amalan akhirat untuk mendapatkan dunia, niscaya ia tidak akan memperoleh bagian apa pun di akhirat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)
Dalam riwayat Imam Al-Baihaqi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menegaskan:
بَشِّرْ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِالتَّيْسِيرِ وَالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ بِالدِّينِ وَالتَّمْكِينِ فِي الْبِلَادِ وَالنَّصْرِ
“Berikanlah kabar gembira kepada umat ini dengan kemudahan, kemuliaan, peninggian derajat dalam agama, kekuasaan di negeri-negeri, serta pertolongan.” (HR. Al-Baihaqi)
Kemudahan, kemuliaan, dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan janji pasti bagi umat ini. Namun, penggunaan amalan akhirat demi meraih keuntungan duniawi akan menghapuskan pahala dan bagian kebaikan hamba di akhirat kelak.
Syarat Kemuliaan dan Kemenangan Umat Islam
Pelajaran haditsnya yaitu kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kekuasaan di dunia tidak dapat diraih kecuali dengan berpegang teguh pada agama Allah. Sikap berpegang teguh tersebut mencakup aspek ilmu, amal, dakwah, dan keyakinan. Hamba yang senantiasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, beribadah hanya kepada-Nya, serta tidak menyekutukan-Nya akan dianugerahi kemuliaan di dunia dan akhirat.
Pembagian Pengertian Umat: Ummatul Ijabah dan Ummatud Da’wah
Penyebutan umat di dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam basyir hadhihil ummata (berikanlah kabar gembira kepada umat ini) merujuk pada pembagian umat ke dalam dua kelompok:
- Ummatul Ijabah
Yaitu kelompok manusia yang telah menerima risalah Islam, beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu kaum muslimin. Kelompok inilah yang menjadi sasaran utama kabar gembira di dalam hadits tersebut. - Ummatud Da’wah
Yaitu seluruh manusia yang belum memeluk agama Islam. Mereka perlu didakwahi agar mengenal hakikat ajaran Islam yang membawa ketauhidan dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.
Penyampaian dakwah kepada ummatud da’wah hendaknya dilakukan dengan hikmah, cara yang baik, serta niat yang ikhlas. Keikhlasan di dalam berdakwah demi mengantarkan seseorang meraih hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki keutamaan yang sangat besar, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
“Maka demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah kepada seorang dengan perantaraanmu adalah lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta-unta merah (harta yang paling berharga).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kekuasaan dan Pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Pelajaran lainnya dari hadits tersebut yakni kekuasaan serta pertolongan yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah terbukti dalam sejarah perjalanan kaum muslimin. Kemenangan besar diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para Khulafaur Rasyidin, serta para pemimpin muslim sesudahnya. Dua kerajaan besar dunia pada masa itu, yaitu Persia dan Romawi, runtuh melalui perjuangan para sahabat dan generasi penerus yang berjuang menyebarkan agama Allah ‘Azza wa Jalla, sehingga manusia berbondong-bondong masuk ke dalam Islam.
Sebaliknya, tatkala umat Islam semakin menjauh dari tuntunan agamanya, kelemahan, ketertindasan, dan kebodohan akan menimpa mereka. Sikap berpaling dan meninggalkan ajaran Allah Subhanahu wa Ta’ala serta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebabkan kaum muslimin menjadi lemah. Janji Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai pertolongan, kekuasaan, dan keamanan bagi orang-orang yang beriman serta beramal saleh telah diabadikan di dalam Al-Qur’an:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur[24]: 55)
Janji Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut telah terbukti dan dianugerahkan kepada kaum muslimin generasi pertama serta generasi-generasi penerusnya yang senantiasa menjaga ketauhidan.
Peringatan terhadap Riya, Sum’ah, dan Niat Duniawi dalam Amalan Akhirat
Ibadah dan pengamalan ajaran agama menuntut keikhlasan secara mutlak hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Larangan keras berlaku bagi perbuatan riya (beramal agar dilihat dan dipuji manusia) serta sum’ah (beramal agar didengar dan dipuji manusia).
Menjadikan amalan akhirat sebagai sarana untuk mengejar keuntungan duniawi merupakan perbuatan yang sangat berbahaya. Niat yang menyimpang tersebut menyebabkan amalan yang seharusnya menjadi tabungan pahala di akhirat tidak mendatangkan balasan kebaikan, bahkan berbuah dosa di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.
Pelajaran lainnya yaitu ancaman dan bahayanya ketika seseorang melakukan amalan ibadah (akhirat) demi memperoleh keuntungan duniawi.
Biografi Singkat Sahabat Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu
Perawi hadits yang disebutkan di atas adalah Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu. Nama lengkap beliau adalah Ubay bin Ka’ab bin Qais Al-Anshari, seorang sahabat dari kaum Anshar yang memiliki julukan Abu Mundzir atau Abu Thufail. Beliau dikenal sebagai Sayyidul Qurra’ (penghulu para pembaca Al-Qur’an) berdasarkan pengakuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَىُّ
“Dan yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara mereka adalah Ubay.” (HR. Tirmidzi)
Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu merupakan sahabat yang memiliki rekam jejak perjuangan yang agung. Beliau termasuk peserta dalam Peristiwa Bai’at ‘Aqabah dan Perang Badar. Di samping itu, beliau merupakan salah satu sahabat yang mengumpulkan Al-Qur’an pada masa hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta membacakan Al-Qur’an langsung di hadapan beliau.
Para ulama menjuluki Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu sebagai sosok yang sangat unggul dalam ilmu dan amal. Keutamaan dan kedudukan beliau yang tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala terbukti saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:
إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ
“Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membacakan Al-Qur’an ini kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedudukan sahabat Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu sangat agung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membacakan Al-Qur’an kepadanya, Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu menanyakan penyebutan namanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ: آللَّهُ سَمَّانِي لَكَ؟ قَالَ: «نَعَمْ». قَالَ: وَقَدْ ذُكِرْتُ عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: «نَعَمْ». فَذَرَفَتْ عَيْنَاهُ
“Ubay bertanya: ‘Apakah Allah menyebutkan namaku kepadamu?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: ‘Ya.’ Ubay bertanya lagi: ‘Apakah namaku disebut di sisi Rabb semesta alam?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’ Maka menangislah Ubay.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu merupakan sosok sahabat yang mulia dan sangat ahli dalam membaca Al-Qur’an. Penyebutan nama beliau secara langsung oleh Allah ‘Azza wa Jalla saat memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membacakan Al-Qur’an menjadi bukti kemuliaan yang sangat besar bagi beliau.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56410-menjaga-ketenangan-hati-dan-keikhlasan-niat/